Kamis, 08 November 2018

herbium


I.                  PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkutpaut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. (UU No. 41 1999).

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. (UU No. 41 1999).

Dendrologi menurut Harlow dan Harrar (1969) didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang pohon atau ilmu yang mempelajari tentang taksonomi tumbuhan berkayu termasuk pohon, perdu dan liana.

Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan mahluk hidup.

Morfologi yaitu cabang ilmu biologi yang membahas mempelajari tentang tata bentuk luar atau sruktur dari suatu organisme.

Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuh tumbuhan. Bagian batang tempat duduknya atau melekat daun dinamakan buku-buku (nodus) batang. Dan tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla) (Tjitrosoepomo, 1985).

1.2       Tujuan dan Kegunaan

          Tujuan dilaksanakannya praktikum yaitu mahasiswa mampu membuat herbarium tumbuhan dengan benar dan lengkap dengan keterangan/catatan lapangan.

            Kegunaan dilaksanakannya praktikum yaitu agar praktikan dapat membuat herbarium tumbuhan dengan benar dan lengkap dengan keterangan/catatan lapangan.





























II.               TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Rujukan Materi

Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuh tumbuhan. Bagian batang tempat duduknya atau melekat daun dinamakan buku-buku (nodus) batang. Dan tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla) (Tjitrosoepomo, 1985).

Herbarium adalah partikel padatan yang dihasilkan oleh tumbuhan baik secara alami maupun nonalami yang diproses dengan pemecahan bahan yang dikeringkan dari bagian daun, bunga dan akar. Sehingga mampu memberikan informasi terbaik mengenai klarifikasi berbagai tumbuhan.

2.2.1    Pembuatan Herbarium

Herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan diawetkan melalui metoda tertentu dan dilengkapi dengan data-data mengenai tumbuhan tersebut. Membuat herbarium yaitu pengumpulan tanaman kering untuk keperluan studi maupun pengertian, tidak boleh diabaikan yaitu melalui pengumpulan, pengeringan, pengawetan, dan dilakukan pembuatan herbarium. (Stacey.2004). 

Herbarium merupakan karya referensi tiga dimensi, herbarium bukan hanya untuk mendefinisikan suatu pohon, namun segala sesuatu dari pohon. Mereka memegang bagian yang sebenarnya dari bagian mereka itu. Nama latin untuk koleksi ini ataupun herbarium adalah Siccus Hortus, yang secara harfiah berarti taman kering, dan setiap spesimen menekan yang terpasang pada selembar kertas yang diulisi dengan apa tanaman yang dikumpulkan itu, kapan dan dimana ditemukannya (Stacey.2004).

Herbarium merupakan tempat penyimpanan contoh koleksi spesiemen tanaman atau tumbuhan yaitu herbarium kering dan herbarium basah. Herbarium yang baik selalu disertai identitas, pengumpul (nama pengumpul atau kolektor dan nomor koleksi). (Moenandir.1996).

Pada masa sekarang herbarium tidak hanya merupakan suatu spesimen yag diawetkan tetapi juga mempunyai suatu lingkup kegiatan  botani tertentu,  sebagai sumber informai dasar untuk para ahli taksonomi dan sekaligus berperan  sebagai pusat penelitian  dan pengajaran , juga pusat informasi bagi masyarakat umum. Herbarium diartikan juga sebagai bank data dengan sejumlah data mentah yang belum diolah. Masing-masing specimen dapat memberikan bermacam-macam informasi, tergantung kelengkapan spesimen, data dan asal-usul materialnya. (Balai Taman Nasional Baluran.2004).

2.2.2    Pemanfaatan tumbuhan

Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pangan sangat beranekaragam, antara lain sebagai sumber karbohidrat, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran dan sebagainya. Banyak jenis tumbuhan hutan memiliki kandungan gizi tinggi seperti vitamin A, vitamin C, zat besi dan kandungan mineral lainnya yang merupakan unsur penting bagi kesehatan sehingga tumbuhan hutan dapat sebagai persediaan sumber pangan pada saat kondisi darurat atau situasi perang (Ramadhani.2003).

Keanekaragaman dan potensi tumbuhan hutan sebagai sumber penyedia bahan pangan masih banyak belum terungkap, sementara itu luasan hutan semakin berkurang mengemukakan bahwa untuk mengungkap keanekaragaman tumbuhan hutan perlu dilakukan survei eksplorasi ke beberapa tipe hutan dan dalam setiap kali survei penelitian selalu akan mendapatkan catatan baru. (Ramadhani.2003).

2.2.3    Herbarium Basa

Herbarium basah, setelah material herbarium diberi label gantung dan dirapikan, kemudian dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Satu lipatan kertas koran untuk satu spesimen (contoh). Tidak benar digabungkan beberapa spesimen di dalam satu lipatan kertas. Selanjutnya, lipatan kertas koran berisi material herbarium tersebut ditumpuk satu diatas lainnya. Tebal tumpukan disesuaikan dengan dengan daya muat kantong plastik (40 × 60) yang akan digunakan. Tumpukkan tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disiram alkohol 70 % atau spiritus hingga seluruh bagian tumbukan tersiram secara merata, kemudian kantong plastik ditutup rapat dengan isolatip atau hekter supaya alkohol atau spiritus tidak menguap keluar dari kantong plastic. (Setyawan.2005)

2.2.4    Herbarium Kering

Herbarium kering, cara kering menggunakan dua macam proses yaitu: (Setyawan.2005).

a.  Pengeringan langsung

Pengeringan langsung yaitu tumpukan material herbarium yang tidak terlalu tebal di pres di dalam sasak, untuk mendpatkan hasil yng optimum sebaiknya di pres dalam waktu dua minggu kemudian dikeringkan diatas tungku pengeringan dengan panas yang diatur di dalam oven. Pengeringan harus segera dilakukan karena jika terlambat akan mengakibatkan material herbarium rontok daunnya dan cepat menjadi busuk.

b.  Pengeringan bertahap

Pengeringan bertahap yakni material herbarium dicelup terlebih dahulu di dalam air mendidih selama 3 menit, kemudian dirapikan lalu dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Selanjutnya, ditempuk dan dipres, dijemur atau dikeringkan di atas tungku pengeringan. Selama proses pengeringan material herbarium itu harus sering diperiksa dan diupayakan agar pengeringan nya merata. Setelah kering, material herbarium dirapikan kembali dan kertas koran bekas pengeringan tadi diganti dengan kertas baru. Kemudian material herbarium dapat dikemas untuk diidentifikasi. (Setyawan.2005).

2.2.5    Klasifikasi (Capparis micracantha)

            Kingdom         : Plantae

            Divisi               : Magnoliophyta

            Kelas               : Magnoliopsida

            Ordo                : Capparales

            Famili              : Capparaceae

            Genus              : Capparis

            Spesies            : Capparis micracantha





III.           METODE PRAKTIKUM

3.1              Waktu dan Tempat

Adapun kegiatan praktikum dendrologi dilakukan oleh mahasiswa kehutanan yaitu dilaksanakan pada hari pertama sabtu, tanggal  13 Mei 2017, pukul 08.00 wita sampai selesai. hari kedua jumat, tanggal 19 Mei 2017, pukul 13.00 wita sampai selesai. Dan hari terakhir selasa, tanggal 23 Mei 2017, pukul 13.00 wita sampai selesai.

Kegiatan praktikum dendrologi dilaksanakan di Hutan Adat Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu dan Herbarium, Univeritas Tadulako, Palu.

3.2              Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan yaitu alkohol 70% atau spiritus, kertas koran bekas, kertas kardus, label lapangan, kantong plastik besar, tali pengikat, benang, lem, doble tip,  dan isolasi.

Alat yang digunakan yaitu parang, gunting stek, GPS, kamera, alat tulis, dan botol spesimen.

3.3       Cara Kerja

A.    Di Lapangan

1.    Ambil bagian tumbuhan yang lengkap mempunyai daun, bunga, dan buah.

2.    Berikan label gantung, berisikan nomor koleksi, nama kolektor, dan tanggal koleksi. Penulisan sebaiknya menggunakan pensil/pulpen agar tidak luntur.

3.    Catat nama lokal, manfaat bagi penduduk setempat, ciri-ciri lapangan (Habitus, bentuk tajuk; bentuk, warna, sifat kulit batang; warna, struktur dan ukuran buah).

4.    Catatan informasi ekologi (ketinggian, keadaan topografi, hubungan dengan tumbuhan lain).

B.     Di Laboratorium Herbarium

Pertama-tama, buka kertas koran yang membungkus spesimen tadi, pindahkan spesimen tadi pada sebuah kertas karton kemudian tempelkan lagi spesimen tadi diatas kertas karton tersebut dan direkatkan menggunakan lem atau selotip. Dan tuliskan informasi mengenai nama latin, family dan nama kelompok pada kertas karton yang sudah diletakkan spesimen tersebut. Kemudian kita keringkan spesimen di oven pengering selama tiga hari. Lalu setelah di keringkan maka spesimen tersebut di identifikasi untuk mengetahui namanya.





















IV.            HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1              Hasil

Hasil dari praktikum:


Gambar 1. Spesimen yang baru diambil dan akan di bawa ke herbarium untuk di identifikasi jenisnya.

4.2       Pembahasan

4.2.1  Keadaan Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dikawasan Kawatuna memiliki keadaan tempat yang berada didataran tinggi dengan tingkat lereng yang begitu miring. Jalur untuk sampai dibagian lokasi tersebut sangat jauh dari Jalan Raya.

4.2.2  Teknik Pembuatan Herbarium

   Teknik pembuatan herbarium yaitu, mengambil bagian tumbuhan yang lengkap terutama yang mempunyai daun, bunga dan buah, setelah itu semprotkan alkohol 70% pada seluruh bagian tumbuhan. Lalu letakan di atas kardus (dos bekas) yang kemudian bagian daun di rekatkan menggunakan selotip/double tip yang dialas dengan kertas agar bagian specimen tidak terkena langsung dengan perekat tadi. Kemudian tutup spesimen tadi menggunakan bagian lain dari kertas kardus tadi. Setelah itu bungkus lagi menggunakan kertas Koran. Setelah semua bagian ditutupi dengan kertas Koran dan dirapikan, lalu ikat menggunakan tali pengikat,  setalah itu berikan etiket gantung/label pada spesimen tersebut. setelah spesimen selesai dikepak dari lapangan, spesimen tersebut dibawah ke UPT Herbarium untuk dilakukan pengeringan hingga 2 hari, spesimen yang sudah kering dilengkapi datanya dari lapangan yang meliputi nama ilmiah, nama daerah, tempat koleksi dan catatan-catatan yang diperlukan sebagai penjelas.

4.2.3  Mounting

           Spesimen yang sudah kering di lem atau dipres menggunakan kertas yang ukurannya 0,5 cm diatas kertas karton, menggunakan kertas yang kuat atau tidak cepat rusak dan kaku ukuran 29 x 43 cm atau menyesuaikan dengan besarnya spesimen. Untuk tumbuhan palmae atau tumbuhan lain yang organnya besar, 1 spesimen di mounting pada beberapa lembar kertas. Selain itu pada kertas mounting juga diberi lebel yang bertuliskan nama family, spesies, kelas, kelompok, desa dan kecamatan sebagai keterangan dari spesies yang kita temukan.          







V.               PENUTUP

5.1              Kesimpulan

            Herbarium adalah material tumbuhan yang telah diawetkan (disebut juga spesimen herbarium). Herbarium juga bisa berarti tempat dimana material-material tumbuhan yang telah diawetkan disimpan. Herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan diawetkan melalui metode tertentu.

          Untuk spesimen kering sebaiknya menggunakan spiritus karena lebih melindungi spesimen dari parasit.

5.2       Saran

Agar setiap praktikum dapat dilakukan dengan lebih teliti, sehingga hasil yang didapatkan akan jauh lebih akurat.























DAFTAR PUSTAKA

Onrizal. 2005. Teknik Pembuatan  Herbarium. http://ocw.usu.ac.id. Diakses  pada tanggal 7 Mei 2017.



Stacey, Robyn and Ashley Hay. 2004. Herbarium. Cambridge University Press: New York (P: 36). Diakses  pada tanggal 7 Mei 2017.



Moenandir, J. 1996. Ilmu Gulma  dalam Sistem Pertanian. PT.Raja Grafindo Persada; Jakarta (P: 121). Diakses  pada tanggal 7 Mei 2017.




Daun Tunggal dan Daun Majemuk


LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM DENDROLOGI

DAUN MAJEMUK DAN TUNGGAL











Oleh:

NURAISYAH DARMAWAN

L 131 16 150












JURUSAN KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2017

I.                  PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. (UU No. 41 1999).

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. (UU No. 41 1999).

Dendrologi menurut Harlow dan Harrar (1969) didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang pohon atau ilmu yang mempelajari tentang taksonomi tumbuhan berkayu termasuk pohon, perdu dan liana.

Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan mahluk hidup.

Morfologi yaitu cabang ilmu biologi yang membahas mempelajari tentang tata bentuk luar atau sruktur dari suatu organisme.

1.2       Tujuan dan Kegunaan

          Tujuan dilaksanakannya praktikum yaitu untuk mempelajari bermacam-macam tipe daun majemuk serta membedakan antara daun majemuk dan tunggal.

            Kegunaan dilaksanakannya praktikum yaitu agar praktikan dapat membedakan antara daun majemuk dan tunggal.



II.               TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Rujukan Materi

Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuh tumbuhan. Bagian batang tempat duduknya atau melekat daun dinamakan buku-buku (nodus) batang. Dan tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla) (Tjitrosoepomo, 1985).

Daun majemuk adalah daun yang pada satu tangkainya  terdapat lebih dari satu helaian daun.

Daun tunggal dapat mempunyai bagian-bagian daun yang berbeda antara golongan tumbuhan satu dengan yang lain karena pada daunnya hanya terdapat satu helai daun saja.

2.1.1        Daun Eboni (Diospyros cellebica Bakh)

A.    Pengertian

Eboni (Diospyros cellebica Bakh) adalah nama kayu hitam yang berasal dari sulawesi selatan dari spesies eboni (Ebenaceae). Anggotanya di seluruh dunia mencapai sekitar 450-500 spesies pohon dan perdu yang selalu hijau atau sebagian ada pula yang menggugurkan daun. Kebanyakan tumbuhan ini berasal dari daerah tropis, dan hanya beberapa spesies yang tumbuh di daerah beriklim sedang.

Eboni  memiliki ciri khas yaitu Pohon yang lurus dan tegak dengan tinggi sampai dengan 40 m. Diameter batang bagian bawah dapat mencapai 1 m. Kulit batangnya beralur, mengelupas kecil-kecil dan berwarna coklat hitam. Pepagannya berwarna coklat muda dan di bagian dalamnya berwarna putih kekuning-kuningan. Daun tunggal terletak berseling, berbentuk jorong memanjang, dengan ujung meruncing, permukaan atasnya mengkilap, seperti kulit dan berwarna hijau tua, permukaan bawahnya berbulu dan berwarna hijau abu-abu.

Daunnya berbentuk memanjang dan tunggal dengan ukuran 12-35 cm dan lebar 2,5-7 cm. Bagian dasar daun tumpul sampai agak menjantung dan ujung daun lancip sampai agak lancip.

B.     Klasifikasi

Kingdom         : Plantae

Disisi               : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Ericales

Famili              : Ebenaceae

Genus              : Diospyros

Spesies            : Diospyros cellebica Bakh

2.1.2        Daun Kemiri (Aleurites moluccanus)

A.    Pengertian

Kemiri (Aleurites moluccanus) adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk dalam suku Euphorbiaceae. Daun tunggal, berseling, hijau tua, bertangkai panjang hingga 30 cm, dengan sepasang kelenjar di ujung tangkai. Helai daun hampir bundar, bundar telur, bundar telur lonjong atau menyegitiga, berdiameter hingga 30 cm, dengan pangkal bentuk jantung, bertulang daun menjari hanya pada awalnya, bertaju 3-5 bentuk segitiga di ujungnya.

Daun tunggal, berseling, hijau tua, bertangkai panjang hingga 30 cm, dengan sepasang kelenjar di ujung tangkai. Helai daun hampir bundar, bundar telur, bundar telur lonjong atau menyegitiga, berdiameter hingga 30 cm, dengan pangkal bentuk jantung, bertulang daun menjari hanya pada awalnya, bertaju 3-5 bentuk segitiga di ujungnya.

B.     Klasifikasi

Kingdom         : Plantae

Disisi               : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Euphorbiales

Famili              : Euphorbiaceae

Genus              : Aleurites

Spesies            : Aleurites moluccanus

2.1.3        Daun Jati Putih (Gmelina arborea)

A.    Pengertian

Jati Putih (Gmelina arborea) adalah tanaman penghasil kayu yang produktif. Tanaman jati putih berasal dari Asia Tenggara, di negara lain dikenal dengan nama Gamari atan Gumadi (India), Gamar (Bangladesh) atau Yemane (Myanmar). Banyak ditanam sebagai tanaman pelindung, sebagian besar dimanfaatkan sebagai tanaman komersil. Sekarang (Januari 2009) tanaman ini banyak ditanam di daerah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Para petani tertarik dengan nilai kayu jenis ini. Semua bagian pohon dapat dimanfaatkan untuk dijual, mulai dari batang gelondongan, cabang bahkan ranting. Nilai ekonomis katu ini yang tinggi membuat tanaman ini ditanam dari tepi jalan, di kebun, di halaman dan sebagainya.

Daun jati termasuk daun tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai dan helaian daun saja dan tidak memiliki pelepah atau disebut daun bertangkai.

B.     Klasifikasi

Kingdom         : Plantae

Disisi               : Tracheophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Fabales

Famili              : Fabaceae

Genus              : Mimosa

Spesies            : Gmelina arborea

2.1.4        Daun Johar (Senna seamea)

A.    Pengertian

Johar (Senna seamea) adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras yang termasuk suku Fabaceae (Leguminosae, polong-polongan). Pohon yang sering ditanam sebagai peneduh tepi jalan ini dikenal pula dengan nama-nama yang mirip, seperti juwar (Btw., Jw., Sd.), atau johor (Mly.). Di Jawa sering juga disebut jati wesi. Di Sumatra, pohon ini dinamai pula bujuk atau dulang. Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini disebut dengan beberapa nama seperti black-wood cassia, Bombay blackwood, kassod tree, Siamese senna dan lain-lain. Nama ilmiahnya, siamea, merujuk pada tanah asalnya, yakni Siam atau Thailand.

Daun menyirip genap, 10-35 cm panjangnya, dengan tangkai bulat torak sepanjang 1,5-3,5 cm yang beralur dangkal di tengahnya, poros daun tanpa kelenjar, daun penumpu meruncing kecil, lk. 1 mm, lekas rontok. Anak daun 4-16 pasang, agak menjangat, jorong hingga jorong-bundar telur, 3-8 cm × 1-2,5 cm, panjang 2-4 × lebarnya, pangkal dan ujungnya membulat atau menumpul, gundul dan mengkilap di sisi atas, dengan rambut halus di sisi bawah.

B.     Klasifikasi

Kingdom         : Plantae

Disisi               : Tracheophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Fabales

Famili              : Fabaceae

Genus              : Mimosa

Spesies            : Senna seamea

2.1.5        Daun Kelor (Moringa oleifera)

A.    Pengertian

Kelor (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini memiliki ketinggian batang 7-11 meter. Daun kelor berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai, dapat dibuat sayur atau obat. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau; bunga ini keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segitiga memanjang yang disebut kelentang, juga dapat disayur.

Daun kelor berbentuk bulat telur, ukuran relatif kecil, daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun selang seling, beranak daun gasal, helai daun berwarna hijau muda, dan biasanya di gunakan sebagai bahan masakan atau obat.

B.     Klasifikasi

Kingdom         : Plantae

Disisi               : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Brassicales

Famili              : Moringaceae

Genus              : Moringa

Spesies            : Moringa oleifera



















III.           METODE PRAKTIKUM

3.1              Waktu dan Tempat

Adapun kegiatan praktikum dendrologi dilakukan oleh mahasiswa kehutanan yaitu dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 27 April 2017, pukul 14.00 wita sampai selesai.

Kegiatan praktikum dendrologi dilaksanakan di KHT B, Fakultas Kehutanan, Univeritas Tadulako, Palu.

3.2              Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan yaitu daun eboni, daun  kemiri, daun jati putih, daun johar, dan daun kelor.

Alat yang digunakan yaitu kertas kuarto, pensil, penggaris, dan penghapus.

3.3              Cara Kerja

1.      Ambil selembar kertas kuarto, lalu berikan garis pinggir dengan ukuran 4:1:1:1.

2.      Tulis nama spesimen dan nama ilmiah tumbuhan.

3.      Gambar daun secara lengkap dengan batang dan rantingnya.

4.      Tulis yang termasuk jenis daun majemuk atau daun tunggal.

5.      Gambar dengan jelas dan tulis tipe dari bagian ujung daun, bentuk daun, dan pangkal daun.









IV.            HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1              Hasil

Hasil dari praktikum:


Gambar 1. Daun Eboni (Diospyros cellebica Bakh) merupakan daun tunggal.


Gambar 2. Daun Kemiri (Aleurites mollucanus) merupakan daun tunggal.








Gambar 3. Daun Jati Putih (Gmelina arborea) merupakan daun tunggal.


Gambar 4. Daun Johar (Senna seamea) merupakan daun majemuk.


Gambar 5. Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan daun majemuk.

4.2       Pembahasan

Daun majemuk adalah daun yang pada satu tangkainya  terdapat lebih dari satu helaian daun.

Daun tunggal dapat mempunyai bagian-bagian daun yang berbeda antara golongan tumbuhan satu dengan yang lain karena pada daunnya hanya terdapat satu helai daun saja.

4.2.1    Daun Eboni (Diospyros cellebica Bakh)

Daun Eboni (Diospyros cellebica Bakh) adalah  tanaman yang termasuk ke dalam daun tunggal karena hanya terdapat satu helai daun saja pada daunnya.

4.2.2    Daun Kemiri (Aleurites moluccanus)

Daun Kemiri (Aleurites moluccanus) adalah tanaman yang termasuk ke dalam daun tunggal karena hanya terdapat satu helai daun saja pada daunnya.

4.2.3        Daun Jati Putih (Gmelina arborea)

Daun Jati Putih (Gmelina arborea) adalah tanaman yang termasuk ke dalam daun tunggal karena hanya terdapat satu helai daun saja pada daunnya.

4.2.4        Daun Johar (Senna seamea)

Daun Johar (Senna seamea) adalah tanaman yang termasuk ke dalam daun mejemuk karena terdapat lebih dari satu helai daun pada satu tangkai. 

4.2.5    Daun Kelor (Moringa oleifera)

            Daun Kelor (Moringa oleifera) adalah tanaman yang termasuk ke dalam daun mejemuk karena terdapat lebih dari satu helai daun pada satu tangkai.



































V.               PENUTUP

5.1              Kesimpulan

Daun majemuk adalah daun yang pada satu tangkainya  terdapat lebih dari satu helaian daun. Contohnya, Daun Johar (Senna seamea) dan Daun Kelor (Moringa oleifera).

Daun tunggal dapat mempunyai bagian-bagian daun yang berbeda antara golongan tumbuhan satu dengan yang lain karena pada daunnya hanya terdapat satu helai daun saja. Contohnya, Daun Eboni (Diospyros cellebica Bakh), Daun Kemiri (Aleurites moluccanus), dan Daun Jati Putih (Gmelina arborea).

5.2       Saran

Agar setiap praktikum dapat dilakukan dengan lebih teliti, sehingga hasil yang didapatkan akan jauh lebih akurat.























DAFTAR PUSTAKA

Alamendah, 2017. uu no 41 tahun 1999 tentang kehutanan.


Atobasahona, 2016. Pengertian dendrologi.

Lamanweb:http://www.atobasahona.com/2016/03/pengertian-dendrologi.html. Diakses pada tanggal 6 Mei 2017

Pengayaan, 2017. Pengertian morfologi.

Lamanweb:http://pengayaan.com/pengertian-morfologi/. Diakses pada tanggal 6 Mei 2017

Saswin, 2012. Diospyros celebica kayu eboni.

Lamanweb:http://saswinhtml.blogspot.co.id/2012/05/diospyros-celebica-kayu-eboni.html. Diakses pada tanggal 7 Mei 2017

Wikipedia, 2017. Kayu hitam sulawesi.


Diakses pada tanggal 7 Mei 2017

Wikipedia, 2017. Johar. Laman web:https://id.wikipedia.org/wiki/JoharDiakses pada tanggal 7 Mei 2017

Wikipedia, 2017. Kemiri. Laman web:https://id.wikipedia.org/wiki/Kemiri. Diakses pada tanggal 7 mei 2017