I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkutpaut
dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara
terpadu. (UU No. 41 1999).
Hutan
adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam
hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang
satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. (UU No. 41 1999).
Dendrologi
menurut Harlow dan Harrar (1969) didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari
tentang pohon atau ilmu yang mempelajari tentang taksonomi tumbuhan berkayu
termasuk pohon, perdu dan liana.
Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia
yang sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat
penting untuk perkembangan mahluk hidup.
Morfologi yaitu cabang ilmu biologi yang membahas
mempelajari tentang tata bentuk luar atau sruktur dari suatu organisme.
Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada
umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat
pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuh
tumbuhan. Bagian batang tempat duduknya atau melekat daun dinamakan buku-buku
(nodus) batang. Dan tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan
daun dinamakan ketiak daun (axilla) (Tjitrosoepomo,
1985).
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dilaksanakannya praktikum yaitu mahasiswa
mampu membuat herbarium tumbuhan dengan benar dan lengkap dengan
keterangan/catatan lapangan.
Kegunaan
dilaksanakannya praktikum yaitu agar praktikan dapat membuat herbarium tumbuhan
dengan benar dan lengkap dengan keterangan/catatan lapangan.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Rujukan Materi
Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya
tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada
batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuh tumbuhan.
Bagian batang tempat duduknya atau melekat daun dinamakan buku-buku (nodus)
batang. Dan tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun
dinamakan ketiak daun (axilla) (Tjitrosoepomo,
1985).
Herbarium
adalah partikel padatan
yang dihasilkan oleh tumbuhan baik secara alami maupun nonalami yang diproses
dengan pemecahan bahan yang dikeringkan dari bagian daun, bunga dan akar.
Sehingga mampu memberikan informasi terbaik mengenai klarifikasi berbagai
tumbuhan.
2.2.1 Pembuatan Herbarium
Herbarium
merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan diawetkan
melalui metoda tertentu dan dilengkapi dengan data-data mengenai tumbuhan
tersebut. Membuat herbarium yaitu pengumpulan tanaman kering untuk keperluan
studi maupun pengertian, tidak boleh diabaikan yaitu melalui pengumpulan,
pengeringan, pengawetan, dan dilakukan pembuatan herbarium. (Stacey.2004).
Herbarium
merupakan karya referensi tiga dimensi, herbarium bukan hanya untuk
mendefinisikan suatu pohon, namun segala sesuatu dari pohon. Mereka memegang
bagian yang sebenarnya dari bagian mereka itu. Nama latin untuk koleksi ini
ataupun herbarium adalah Siccus Hortus, yang secara harfiah berarti taman
kering, dan setiap spesimen menekan yang terpasang pada selembar kertas yang
diulisi dengan apa tanaman yang dikumpulkan itu, kapan dan dimana ditemukannya (Stacey.2004).
Herbarium
merupakan tempat penyimpanan contoh koleksi spesiemen tanaman atau tumbuhan
yaitu herbarium kering dan herbarium basah. Herbarium yang baik selalu disertai
identitas, pengumpul (nama pengumpul atau kolektor dan nomor koleksi). (Moenandir.1996).
Pada masa sekarang herbarium tidak hanya merupakan suatu
spesimen yag diawetkan tetapi juga mempunyai suatu lingkup kegiatan botani tertentu, sebagai sumber informai dasar untuk para ahli
taksonomi dan sekaligus berperan sebagai
pusat penelitian dan pengajaran , juga
pusat informasi bagi masyarakat umum. Herbarium diartikan juga sebagai bank
data dengan sejumlah data mentah yang belum diolah. Masing-masing specimen
dapat memberikan bermacam-macam informasi, tergantung kelengkapan spesimen,
data dan asal-usul materialnya. (Balai
Taman Nasional Baluran.2004).
2.2.2 Pemanfaatan
tumbuhan
Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pangan sangat beranekaragam, antara lain
sebagai sumber karbohidrat, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran
dan sebagainya. Banyak jenis tumbuhan hutan memiliki kandungan gizi tinggi
seperti vitamin A, vitamin C, zat besi dan kandungan mineral lainnya yang
merupakan unsur penting bagi kesehatan sehingga tumbuhan hutan dapat sebagai
persediaan sumber pangan pada saat kondisi darurat atau situasi perang (Ramadhani.2003).
Keanekaragaman dan potensi tumbuhan hutan sebagai sumber penyedia bahan
pangan masih banyak belum terungkap, sementara itu luasan hutan semakin
berkurang mengemukakan bahwa untuk mengungkap keanekaragaman tumbuhan hutan
perlu dilakukan survei eksplorasi ke beberapa tipe hutan dan dalam setiap kali
survei penelitian selalu akan mendapatkan catatan baru. (Ramadhani.2003).
2.2.3 Herbarium Basa
Herbarium
basah, setelah material herbarium diberi label gantung dan dirapikan, kemudian
dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Satu lipatan kertas koran untuk satu
spesimen (contoh). Tidak benar digabungkan beberapa spesimen di dalam satu
lipatan kertas. Selanjutnya, lipatan kertas koran berisi material herbarium
tersebut ditumpuk satu diatas lainnya. Tebal tumpukan disesuaikan dengan dengan
daya muat kantong plastik (40 × 60) yang akan digunakan. Tumpukkan tersebut
dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disiram alkohol 70 % atau spiritus
hingga seluruh bagian tumbukan tersiram secara merata, kemudian kantong plastik
ditutup rapat dengan isolatip atau hekter supaya alkohol atau spiritus tidak
menguap keluar dari kantong plastic.
(Setyawan.2005)
2.2.4 Herbarium Kering
Herbarium
kering, cara kering menggunakan dua macam proses yaitu: (Setyawan.2005).
a. Pengeringan langsung
Pengeringan langsung yaitu tumpukan material herbarium yang tidak terlalu
tebal di pres di dalam sasak, untuk mendpatkan hasil yng optimum sebaiknya di
pres dalam waktu dua minggu kemudian dikeringkan diatas tungku pengeringan
dengan panas yang diatur di dalam oven. Pengeringan harus segera dilakukan
karena jika terlambat akan mengakibatkan material herbarium rontok daunnya dan
cepat menjadi busuk.
b. Pengeringan bertahap
Pengeringan bertahap yakni material herbarium dicelup terlebih dahulu di
dalam air mendidih selama 3 menit, kemudian dirapikan lalu dimasukkan ke dalam
lipatan kertas koran. Selanjutnya, ditempuk dan dipres, dijemur atau
dikeringkan di atas tungku pengeringan. Selama proses pengeringan material
herbarium itu harus sering diperiksa dan diupayakan agar pengeringan nya
merata. Setelah kering, material herbarium dirapikan kembali dan kertas koran
bekas pengeringan tadi diganti dengan kertas baru. Kemudian material herbarium
dapat dikemas untuk diidentifikasi. (Setyawan.2005).
2.2.5 Klasifikasi
(Capparis micracantha)
Kingdom :
Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo :
Capparales
Famili : Capparaceae
Genus : Capparis
Spesies : Capparis
micracantha
III.
METODE
PRAKTIKUM
3.1
Waktu dan Tempat
Adapun kegiatan praktikum dendrologi
dilakukan oleh mahasiswa kehutanan yaitu dilaksanakan pada hari pertama sabtu,
tanggal 13 Mei 2017, pukul 08.00 wita
sampai selesai. hari kedua jumat, tanggal 19 Mei 2017, pukul 13.00 wita sampai
selesai. Dan hari terakhir selasa, tanggal 23 Mei 2017, pukul 13.00 wita sampai
selesai.
Kegiatan praktikum dendrologi dilaksanakan
di Hutan Adat Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu
dan Herbarium, Univeritas Tadulako, Palu.
3.2
Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan yaitu alkohol 70% atau spiritus, kertas koran bekas, kertas
kardus, label lapangan, kantong plastik besar, tali pengikat, benang, lem,
doble tip, dan isolasi.
Alat
yang digunakan yaitu parang, gunting stek, GPS, kamera, alat tulis, dan botol
spesimen.
3.3 Cara
Kerja
A.
Di Lapangan
1.
Ambil
bagian tumbuhan yang lengkap mempunyai daun, bunga, dan buah.
2.
Berikan
label gantung, berisikan nomor koleksi, nama kolektor, dan tanggal koleksi.
Penulisan sebaiknya menggunakan pensil/pulpen agar tidak luntur.
3.
Catat
nama lokal, manfaat bagi penduduk setempat, ciri-ciri lapangan (Habitus, bentuk
tajuk; bentuk, warna, sifat kulit batang; warna, struktur dan ukuran buah).
4.
Catatan
informasi ekologi (ketinggian, keadaan topografi, hubungan dengan tumbuhan
lain).
B. Di Laboratorium Herbarium
Pertama-tama,
buka kertas koran
yang membungkus spesimen tadi, pindahkan
spesimen tadi pada sebuah kertas karton
kemudian
tempelkan lagi spesimen tadi diatas kertas karton tersebut dan direkatkan
menggunakan lem atau selotip. Dan
tuliskan informasi mengenai nama latin, family dan nama kelompok pada kertas
karton yang sudah diletakkan spesimen tersebut. Kemudian
kita keringkan spesimen di oven pengering selama tiga hari. Lalu setelah di
keringkan maka spesimen tersebut di identifikasi untuk mengetahui namanya.
IV.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Hasil
dari praktikum:

Gambar 1. Spesimen yang baru diambil dan akan
di bawa ke herbarium untuk di identifikasi jenisnya.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Keadaan Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel
dikawasan Kawatuna memiliki keadaan tempat yang berada didataran tinggi dengan
tingkat lereng yang begitu miring. Jalur untuk sampai dibagian lokasi tersebut
sangat jauh dari Jalan Raya.
4.2.2 Teknik Pembuatan Herbarium
Teknik pembuatan herbarium yaitu, mengambil bagian tumbuhan yang lengkap
terutama yang mempunyai daun, bunga dan buah, setelah itu semprotkan alkohol
70% pada seluruh bagian tumbuhan. Lalu letakan di atas kardus (dos bekas) yang
kemudian bagian daun di rekatkan menggunakan selotip/double tip yang dialas
dengan kertas agar bagian specimen tidak terkena langsung dengan perekat tadi.
Kemudian tutup spesimen tadi menggunakan bagian lain dari kertas kardus tadi.
Setelah itu bungkus lagi menggunakan kertas Koran. Setelah semua bagian
ditutupi dengan kertas Koran dan dirapikan, lalu ikat menggunakan tali
pengikat, setalah itu berikan etiket
gantung/label pada spesimen tersebut. setelah spesimen selesai dikepak dari
lapangan, spesimen tersebut dibawah ke UPT Herbarium untuk dilakukan
pengeringan hingga 2 hari, spesimen yang sudah kering dilengkapi datanya dari
lapangan yang meliputi nama ilmiah, nama daerah, tempat koleksi dan
catatan-catatan yang diperlukan sebagai penjelas.
4.2.3 Mounting
Spesimen yang sudah kering di lem atau dipres
menggunakan kertas yang ukurannya 0,5 cm diatas kertas karton, menggunakan
kertas yang kuat atau tidak cepat rusak dan kaku ukuran 29 x 43 cm atau
menyesuaikan dengan besarnya spesimen. Untuk tumbuhan palmae atau tumbuhan lain
yang organnya besar, 1 spesimen di mounting pada beberapa lembar kertas. Selain
itu pada kertas mounting juga diberi lebel yang bertuliskan nama family,
spesies, kelas, kelompok, desa dan kecamatan sebagai keterangan dari spesies
yang kita temukan.
V.
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Herbarium adalah material tumbuhan
yang telah diawetkan (disebut juga spesimen herbarium). Herbarium juga bisa
berarti tempat dimana material-material tumbuhan yang telah diawetkan disimpan.
Herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan
diawetkan melalui metode tertentu.
Untuk
spesimen kering sebaiknya menggunakan spiritus karena lebih melindungi spesimen
dari parasit.
5.2 Saran
Agar
setiap praktikum dapat dilakukan dengan lebih teliti, sehingga hasil yang
didapatkan akan jauh lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Onrizal. 2005. Teknik Pembuatan Herbarium. http://ocw.usu.ac.id.
Diakses pada tanggal 7 Mei 2017.
Stacey, Robyn and Ashley Hay. 2004. Herbarium.
Cambridge University Press: New York (P: 36). Diakses pada tanggal 7 Mei 2017.
Moenandir, J. 1996. Ilmu
Gulma dalam Sistem Pertanian.
PT.Raja Grafindo Persada; Jakarta (P: 121). Diakses pada tanggal 7 Mei 2017.